Kamis, 29 Desember 2011

Mont Saint Michel Impian Para Turis


Sabtu, 24 Desember 2011
Mont St.Michel

Jam 06.00 aku sudah bangun, selesai sholat tahajud, aku menyiapkan bekal makanan yang akan kami bawa nanti (lumayan untuk penghematan). Nasi goreng dengan campuran Daging (Sisa Rendang semalam), Udang, dan Nugget Ayam, cukup lezat rasanya.
Bus Keolis ke Mont St.Michel
Jam 09.30 kami berangkat menuju La Gare, jadwal bus kami adalah jam 10.30. begitu tiba di La gare kami langsung membeli tiket bus yang harganya 11.50, Di dalam bus ternyata sudah penuh dengan penumpang yang semuanya berasal dari “Asia” dari bahasa yang mereka gunakan bisa kutebak kalau mereka berasal dari Jepang, Korea, China dan India, plus 3 orang Indonesia (kami).
Saat bus akan berangkat ada kejadian  yang mengelikan bagiku yaitu saat sang sopir men “translate” peringatan untuk tidak makan/minum di bus setelah ia menyampaikan dalam bahasa Perancis “interdit de manger et boire dans le bus’’ kemudian ia mentranslatenya dalam bahasa inggris ‘’ I don’know what you eat’’ yang kalau di artikan ‘’Saya tidak tahu apa yang anda makan’’ kami semua tersenyum simpul…ha..ha.. ternyata  “parah’’ bahasa Inggrisnya si sopir ini.
Perjalanan dari Rennes – Mont St. Michel,  kami tempuh 1 ½ jam ke arah utara, cuaca hari ini bagus sekali, matahari bersinar terang, namun tetap saja udaranya dingin sekali.  Pemandangan sepanjang jalan tak jauh beda dengan pemandangan dari Angers ke Rannes, dikiri-kanan penuh dengan perkebunan sayur mayur dan hamparan rumput luas berikut dengan sapi dan domba.
Mont St.Michel
dari jauh sudah nampak bukit bangunan gereja tua di puncaknya. Para penumpang bus sibuk mengabadikannya dengan bermacam jenis kamera yang mereka miliki.
Begitu kami sampai di terminal bus yang lokasinya tepat berada di depan pintu masuk ke Mont St. Michel, sudah banyak pengunjung yang datang rata-rata dengan kendaraan pribadi. Bangunan yang awalnya sebagai gereja, dan sempat menjadi penjara, saat ini telah menjadi ikon pariwisata ke 2 setelah Menara Eifel sebagai objek wisata di Perancis.
Saat memasuki Mont St. Michel, kita akan disambut dengan jalanan batu yang disebut “Cour de l’Avancee” yang menanjak dan Gerbang “Bevole” yang dibangun tahun 1590 oleh Gabriel du pay, menjadi awal menuju gereja besar dipuncak yang disebut “The Abbey” , sepanjamg jalan kecil ini kita akan menjumpai berbagai toko souvenir yang menjajakan berbagai jenis Souvenir khas Mont St. Michel  mulai dari pakaian , keramik, pernak-pernik lainnya hingga ke makanan.
@ Abbey
Mont St. Michel sering di sebut sebagai “Merveille de l’Occident” (Keajaiban dari Barat) memiliki architecture yang terindah dan menjadi tujuan utama para wisatawan yang datang ke Perancis. Pulau karang yang berada di tengah laut dengan luas sekitar 1km² dan tinggi 80m dari permukaan laut. Berawal dari  impian St.Aubert, seorang pendeta Avranches, di tahun 708 yang menginginkan gereja sebagai pusat keagamaan dan ziarah dipulau kecil tersebut.
Sebelumnya (abad 6 & 7) pulau kecil ini bernama "Monte Tombe" dan digunakan sebagai benteng Kaum Armorican sebagai pusat budaya dan kekuasaan dari Romano-Breton, sampai akhirnya jatuh ketangan kaum Frank, dengan demikian mengakhiri budaya trans-channel yang sudah berdiri sejak Roma di 460.
Abbey
Tempat ini menjadi sangat penting dan strategis di 933 ketika William "Long Sword", William I, Duke of Normandy, menguasai Semenanjung Cotentin, dan menenpatkan pulau ini sebagai kekuasaannya di Normandia.
Di tahun 1469,  Louis XI dari Perancis bermaksud menjadikan gereja Mont Saint-Michel menjadi kapel untuk Ordo Santo Michael Orde, tetapi karena jarak yang besar dari Paris, niatnya tidak pernah dapat direalisasikan.
La Vieille Auberge
Namun, popularitas dan prestise sebagai pusat ziarah berkurang pada masa Reformasi, dan pada saat Revolusi Prancis ada hampir tidak ada biarawan yang datang ke gereja ini,  Hingga biara ini ditutup dan diubah menjadi penjara, awalnya untuk menahan para  tahanan politik, agamawan  dan yang melawan  rezim republik. 1836, Tokoh-tokoh berpengaruh termasuk Victor Hugo, mengkampanye kan  untuk mengembalikan apa yang  mereka lihat sebagai harta karun arsitektur nasional. Penjara itu akhirnya ditutup pada 1863, dan Mount St. Michel dinyatakan sebagai monumen bersejarah pada tahun 1874. Mont-Saint-Michel ditambahkan ke daftar UNESCO Situs Warisan Dunia pada tahun 1979, dan terdaftar sebagai peningalan  budaya, sejarah, dan arsitektur, serta keindahan yang diciptakan manusia dan alam.
Pemandangan laut sangat terasa indah ditambah dengan dinginnya angin laut, menambah kesan agungnya gereja ini. Puas berkeliling dan mengunjungi setiap sudut Gereja “Abbey” kami mengunjungi beberapa toko souvenir yang ada di bawah. Lumayan banyak souvenir yang aku beli, hitung-hitung kapan lagi akan mampir kesini.
Center of Abbey
Waktu sudah menunjukkan jam 13.30, perut sudah bernyanyi “lapar”, segera kami mencari tempat yang nyaman untuk menikmati bekal makan siang telah kami siapkan dari RENNES. Akhirnya di jalan sepi di antara hotel-hotel kecil di Mont St.Michel kami menikmati makan siang kami. Udara dingin menambah nikmatnya makan siang kami.
Selesai makan siang, kami melanjutkan berjalan ke jalan utama yang kami lalui dengan bus tadi untuk mendapatkan gambar Mont St.Michel secara utuh. Saat sibuk mengambil photo kami sempat berkenalan dengan seorang wisatawan yang berasal dari “Selatan Dunia” Australia!!!, wowww jauh banget.
Jam 14.30, kami memutuskan kembali ke RENNES lebih sore, buat belanja-belanja,  apalagi besok kami masih harus ke St.Malo, Kota pantai yang terkenal di utara Perancis.
Malam ini kami pesta keong laut yang dimasak dengan jamur oleh kang ucu, nikmat juga rasanya setelah seharian berwisata ke Mont St. Michel.

Dahsyat!!!! Penampilan 4D "Illumination de la Marie de Rennes"


Jum’at 23 Desember 2011.
Illumination de la Marie de Rennes
Ya ampun pagi ini udara dingin sekali, padahal aku tidur sudah dengan sweater dan kaos kaki, plus selimut tebal, tapi tetap saja dingin.
Jam 06.00 semua alarm di Black Bery maupun di Samsung berbunyi nyaring…saling sahut menyahut… Malas keluar dari selimut, tapi kupaksakan juga ke WC, karena pangilan toilet (kebelet pipis), saat berudhu air serasa es, mengigil aku.
Selesai sholat Tahajud, kunyalakan laptop untuk mendengarkan berita tentang Indonesia, melalui TVone ataupun Metro TV, sambil mengecek kembali konfirmasi tumpangan di covoiturage.fr. Hari ini aku akan pergi ke RENNES ibukota dari Region ‘’Bretagne’’dengan ikut tumpangan mobil orang lain (omprengan), di Perancis lebih dikenal dengan istilah ‘’covoiturage’’ dimana seseorang dapat mempublikasikan di internet jika ia mengundang orang lain untuk ikut dengan kendaraannya dengan membayar 3x lebih murah jika dibanding dengan BUS atau KERETA, sebagai gambaran dari Angers ke Rennes jika menggunakan bus KEOLIS biayanya 13,50€ atau dengan TGV biayanya 18,00€. Sedang dengan covoiturage aku cuma perlu membayar 5€, irit sekali kan.
Rendevous (Janjian) dengan Marc P, pemilik kendaraan yang aku gunakan untuk ke Rennes jam 13.00 nanti siang di Tram Sation VERNEAU sudah confirm.
Jam 08.00 kulihat dikulkas masih banyak sisa sayuran, yang kalau kutinggalkan lebih dari 2 hari pasti busuk. Akhirnya kuputuskan untuk memasak tumis sayur campur-campur. Tapi masih juga ada sisa sayur ya sudahlah..nanti aku ‘’Donasikan” ke Bayu saja, siapa tahu bermanfaat.
Jam 09.00 sambil memasak, “skype” dengan anak dan istriku… senang juga mendengar cerita tentang liburan mereka.
Jam 11.00, dengan bersepeda aku pergi ke Lecrec hypermarket yang paling dekat dengan appartementku untuk membeli handuk kecil yang perlu aku bawa ke Rennes. Ya ampun bibirku perih sekali, karena udara dingin… untung aku sudah menggunakan 3 lapis pakaian selain jaket jadi badanku tidak terlalu dingin.
Jam 12.00 aku sudah kembali lagi ke appartement, ku cek kembali tas ransel yang akan kubawa ke Rennes, lengkap… Segera meluncur ke Tram Station Verneau, jam 12.30 aku sudah tiba disana, bertemu lelaki besar berkulit hitam namun ramah, namanya Rafha, dia ternyata juga ikut ke Rennes bersama Marc P, tak lama muncul Michel seorang lelaki perancis yang memiliki paras cukup menarik, tak heran kalau ia memperkenalkan diri sebagai seorang marketing perusahaan asuransi di Angers.
Tak lama menunggu mobil Renault putih yang dikendarai oleh Marc P muncul. Marc seorang lelaki separuh baya dengan rambut ikalnya, cukup ramah menyambut kami bertiga sebagai penumpangnya. Saat perjalanan dimulai kami saling memperkenalkan diri, aku jelaskan ke mereka kalau bahasa Perancisku masih belum fasih. Tapi mereka ternyata sangat menghargai usaha kerasku untuk berbicara bahasa perancis.
Perjalanan 1 ½ jam sangat menyenangkan, pemandangan sepanjang jalan dipenuhi dengan lapangan rumput lengkap dengan sapi-sapi yang berkeliaran bebas, pertanian bunga hops (sebagai bahan aroma beer) dan  sayur-mayur.
Masjid di Universite Rennes 2
Jam 13.50 kami sudah tiba di Metro Station Poteire – Rennes, setelah membayar 5€, aku melanjutkan perjalanan ke station Ville Jean untuk bertemu dengan kang Ucu (mahasiswa S2 beasiswa dari Nestle di  Agro Campus Rennes) dengan Metro hanya butuh waktu ½ jam. Yang membuatku kagum metro (tram) ini tidak memiliki kondektur, tapi otomatis berjalan sendiri digerakkan oleh listrik, luar biasa hebatnya.
Saat di Ville Jean, kang ucu belum terlihat, saat kutelpon terdengar suara azan, ternyata dia berada di masjid yang tak jauh dari station metro, kang ucu menungguku di masjid. Alhamdulilah aku bisa sholat di masjid hari ini, paling tidak sebagai penganti sholat jum’at yang tidak bisa kuikuti hari ini. Di perancis, jarang sekali menggunakan istilah mosque (masjid) lebih banyak menggunakan istilah Culture Centre d’Islamic (Pusat Budaya Islam)
Setelah sholat ashar, aku bersama kang ucu menuju apartement kang Robby (Mahasiswa S3 beasiswa dari DIKTI dan juga teman saat di CCF Jakarta yang kuliah di INRA – Angro Campus). Tak lama kami sampai,  kang Robby juga tiba dari INRA. Sebagai menu makan malam, kang robby memasak “rendang” (dengan bumbu Instant). Wow nikmat juga rasanya…
Illumination de la Marie de Rennes
Jam 18.30 Selesai sholat  magrib, kami pergi ke la Gare untuk mencari informasi tentang bus/kereta ke “Mont St.Michel” yang akan kami kunjungi besok pagi. Jika dibandingkan dengan NANTES (Ibukota Region Pays de la Loire). RENNES lebih besar dan lebih teratur, dan termasuk salah satu kota pelajar di Perancis, jadi tak heran jika kita akan menemui banyak sekali anak muda terutama pelajar/mahasiswa di kota ini.
Illumination de la Marie de Rennes
Setelah mendapatkan info tentang jadwal & harga tiket bus ke Mont St. Michel, kami berjalan-jalan ke centre Ville, apalagi tiap lima 15 menit ada pertunjukan 4D ‘’Illumination de la Mairie de Rennes‘’ di  Hôtel de ville de Rennes (marie) http://www.youtube.com/watch?v=CRia7TbFTNY&feature=related
Me & Kang Ucu
Luar biasa pertunjukannya, walau Cuma 15 menit, namun permainan cahaya dan laser, mampu membuat seluruh pengunjung bedecak kagum. Selesai menyaksikan pertunjukkan di Maire, kami memutuskan untuk mencoba ‘’Creperie’’  Bretagne yang terkenal di salah satu restaurant dekat  Palais du Republique. Ehm nikmat juga Creperie dengan isi pisang dan saus coklat, ditambah dengan minuman coklat hangat, cukup untuk mengurangi dingin udara malam yang berkisar 1-5°C. Pulang ke appartement kang Robby dengan berjalan kaki (30 menit) menyusuri kanal-kanal di tengah kota Rennes, cukup menyenangkan.

RENNES ibukota Brittagne, France


Senin, 26 Desember 2011
Pagi ini, kang Robby sudah kembali beraktifitas di  INRA, karena disini ia berkerja di Lab, yang tidak meliburkan karyawannya.
L'eglise st.Geman
Hari ini aku merencanakan untuk berkeliling kota RENNES, karena di hari pertama hanya beberapa bagian saja yang sempat aku kunjungi, itupun dimalam hari. Ada banyak tempat yang ingin aku kunjungi, semuanya sudah aku tulis dalam notes kecilku, mulai dari Jardin du Thambor, Palais du Commerce, Parlement de Bretagne hingga L’Eglise St. German.
Palais de Republique/Palais du Commerce
Kang Robby menyarankan untuk berangkat setelah makan siang, selain udara pagi masih dingin, toko-toko juga masih banyak yang belum buka. Jam 13.30 Setelah makan siang, aku menuju Palais de la Republique (Palais du Commerce), sebagai tempat pertama yang ku kunjungi. Kulihat kegiatan perkotaan sudah mulai normal toko-toko sudah mulai buka, jadi dimana-mana sudah ramai dengan orang berlalu-lalang. 
Hotel de Ville (Maire)
Kemudian melihat Hotel de Ville (Maire) yang sempat kulihat di malam pertama saat tima di Rennes, tepat didepannya adalah Theatre du Rennes, Karena ini merupakan balai kota, maka wajarlah jika banyak orang menjadikannya sebagai ‘’Meeting Point’’, hanya berjarak 1 blok dari Maire aku melihat Gedung Parlement du Bretagne, yang menarik adalah Jam matahari yang berada tepat diatas Pintu utamanya.
Parlement de Bretagne
Jardin du Thambor
Kulanjutkan perjalannku menyusuri kota Rennes, mulai dari melihat bangunan-bangunan tua yang menarik dan ber gaya arsitektur renaisance maupun gaya gothic.  Aku juga sempat mampir ke Jardin du Thambor, sebuah taman besar yang berada ditengah kota Rennes, sayang aku datang dimusim dingin, karena jika datang di musim semi, maka akan nampak taman bunga terutama bunga mawar dari berbagai warna yang berasal dari berbagai negara.



Lelah menyusuri sebagian kota Rennes, aku mampir ke Carrefour city untuk sekedar membeli roti dan jus, udara dingin ini membuatku cepat haus dan lapar. Kunikmati di lapangan dekat St.Anne. Perjalanan kulanjutkan untuk mengunjungi Place des Lices, tempat dimana banyak bangunan-bangunan tua yang berasal dari abad ke 16 dengan arsitektur Medieval dengan kayu sebagai tulang bangunanya.
Places de Lices
Places de Lices
Disini kutemukan banyak sekali kedai-kedai kopi yang penuh dengan orang-orang muda, sebagai tempat ‘’Hang Out’’ menghabiskan sore hari. Di sini juga terdapat pasar tradisional, namun sayang sore ini sudah tutup. Selesai mengunjungi tempat-tempat yang menarik di seputar kota Rennes aku kembali lagi ke Maire, dalam perjalanan, aku mampir ke toko jam ‘’Swatch’’ untuk melihat koleksi yang mereka miliki, karena sepertinya lebih besar dan pastinya lebih banyak koleksinya, dibanding dengan yang ada di Angers, Benar saja, aku tertarik pada satu model jam perempuan yang tipis, namun sangat elegan….ehm ini cocok buat mantan pacarku (istriku sekarang) Harga.. ???? tak jadi soal.
Selesai membayar aku segera kembali ke melanjutkan perjalanan ke Maire, untuk sekedar mampir ke Tabac yang menjual souvenir, Jam sudah menunjukkan pukul 18.00, kakiku juga sudah cukup letih…waktunya untuk kembali ke appartement kang robby.
Malam ini aku juga harus mengkonfirmasi tumpangaku untuk pulang ke Angers. Setelah ku telpon Antoine, pemilik kendaraan yang akan aku tumpangi besok menyanggupi untuk menungguku di Potiere jam 06.20 (wah pastinya masih gelap dan dingin sekali….tapi tak apalah…irittt)

Senin, 05 Desember 2011

Visa Long Sejour - Nantes


JUM’AT 2 DECEMBER 2011
Pagi ini seperti biasa aktivitasku, bangun pagi, sholat thajud dan sekarang menikmati siaran berita siang di TV One atau liputan Siang di Metro TV (via Mivo TV) menjadi kegemaran baruku. Paling tidak selalu up to date perkembangan di tanah air.

Ping!!! (BBM) dari istriku, menanyakan kegiatanku hari ini, kukatakan aku masih bingung pagi ini, apakah aku akan berangkat ke Nantes atau tidak, karena emailku ke Nantes@ofii.fr dari semalam belum juga ada jawabannya. “Coba hubungi orang kampus, minta bantuan mereka!” begitu saran istriku.

Jam 08.30 atas saran istriku aku langsung berangkat ke kampus Belle Beille, Direction des Relations Internationales untuk menemui DELPHIN LEBRETON assiten dari Mme CATHERINE BARRETEAU yang selama ini banyak membantuku.

Guna menjaga-jaga jikalau ternyata tidak ada jawaban dari ofii, ku email terlebih dulu SYLVINE, untuk tetap bisa bertemu dengannya jam 15.00 sore nanti. Semalam pak Sabri juga menginformasikan jika hari ini akan ada kelas Mme GUINNET jam 09.30 di meeting room. Karena yakin pasti akan terlambat, ku BBM pak sabri, kalau aku akan datang terlambat ½ - 1 jam.

Sampai di kampus Belle-Beille aku langsung menuju Pole Accueil Direction des Relations Internationales, tapi pintu ruangan Delphin masih tertutup. Sambil menunggu aku menuju Biblioteque di gedung belakang, sekalian mencari info tentang M.Dominique Dubois (yang pernah menjadi Atase pendidikan- Kedutaan Perancis di Jakarta).

Tak terasa waktu sudah 30 menit, aku berda di biblioteque, langsung aku kembali ke ruangan delphin, a.ha…. dia sudah datang, tapi masih ada Mme barreteau yang sedang berdiskusi dengannya. Akhirnya ia mempersilakanku masuk, kuceritakan tentang  kronologis informasi tentang ‘’envoce OFII’’ tersebut. Seperti biasa, Delphin sangat repon sekali, ia langsung mencoba menghubungi partnernya yang bekerja di OFII Nantes, karena tidak ada jawaban dicobanya via email, sambil menunggu jawaban email, Delpin menyarankanku untuk tetap pergi ke Nantes, dengan pertimbangan, jika ternyata info itu  benar dan aku tidak datang, maka akan sulit sekali bagiku untuk mendapatkan janji kembali. Apalagi sekarang sudah bulan Desember.

‘’Saya akan tetap berusaha menghubungi temanku di Nantes, begitu ada khabar terbaru akan segera menghubungi kamu! ‘’ kata Delpin meyakinkanku. Aku juga mendapatkan kepastian darinya bahwa semester depan aku masih bisa mengikuti program bahasa Perancis dan budaya Perancis yang diadakan oleh  Direction des Relations Internationales. 

Segera aku kembali ke kampus St. Serge untuk mengikuti kuliah Scientif Writing dengan Mme. Guinnet. Jam 11.30 Delphin menelponku, belum ada jawaban dari temannya, tapi ia sangat menyarankan untuk pergi ke Nantes. Dengan berbekal keyakinan, begitu selesai kelas, aku segera menuju La Gare membeli tiket TER ke Nantes, Tiket TER cukup mahal 28,80E pulang-pergi.

Jam 12.30 aku berangkat dari Angers, tak terasa 45 menit  aku sudah tiba di Nantes. Karena sudah pernah ke Nantes sebelumnya (30 Nov yang lalu bersama dengan teman-teman dari ISTIA). Apalagi Rendevous yang kuterima jam 15.00, jadi masih banyak waktu, sehingga kuputuskan untuk bejalan kaki saja ke OFII Office yang jaraknya ± 3 km  dari La Gare Nantes, sekalian ke toko Asia di Douffy Street 


Sambil menikmati kota Nantes, kuabadikan beberapa photo menarik terutama yang berkaitan dengan ‘’sepeda’’.  Hand Phone ‘’SAMSUNG’’ ku yang selalu setia menjadi perekam kegiatanku selama ini. Tujuan pertamaku ke toko Asia, disini ternyata banyak sekali jenis makanan dari Asia, mulai dari Cina,Thailand,Vietnam dan Malaysia. Sedang makanan dari Indonesia, cuma ada 2 jenis, yaitu: Sambal ABC dan Indomie (Kari, Ayam dan Mie Goreng). Tapi kuputuskan untuk tidak membeli Indomie, selain harganya mahal (0,50E/bungkus) ukurannya juga 2x lebih kecil jika dibandingkan   Mie Goreng atau Mie Ramen produksi Thailand yantg harganya hanya 0,75E/bungkus. Kubeli 3 botol sambal ABC (2 botol untukku dan 1 botol untuk Bayu). 

Selesai berbelanja kulanjutkan perjalanan menuju OFII office, sambil mem ‘Photo’’ beberapa objek yang menarik mulai dari gereja St. Croix sampai dengan Tour de Bretagne (Menara Bretagne)

Jam 14.30, aku sudah tiba di OFII, walau lebih awal 30 menit, kutanyakan ke petugas penerima tamu, apakah ada namaku untuk jadwal hari ini. (sambil berdo’a semoga ada). ‘’Apakah anda membawa passport dan seluruh dokumen kelengkapannya, Monsieur?’’ Tanya perempuan petugas penerima tamu. Kutunjukkan semua dokumen yang kubawa (OFII Timbre, passport, photo, dan attestation hebergement). Kenapa anda baru datang sekarang? Seharusnya anda datang tanggal 25 Oktober yang lalu!!’’ lanjut petugas seperti polisi. ‘’Saya tidak pernah menerima surat ataupun email dari OFII selama ini. Sekarangpun saya datang karena kemarin, saya menerima telpon dari OFII office, jadi saya nekat datang kesini !, syukur kalau nama saya ada’’ panjang lebar aku menjawab pertanyaan si petugas walau dengan bahasa yang pas-pasan  (yang penting ia mengerti)

Segera ia memberikan se-paket dokumen yang  nantinya akan diisi oleh petugas medic dan dokter. Aku dipersilakan untuk menunggu di ruang tunggu, disana sudah banyak orang asing yang aku yakin semuanya juga mahasiswa sepertiku, mulai dari Cina, Tunisia, Mali, Jerman, Polandia, entah dari Negara manalagi….

Tak lama aku dipanggil untuk pemeriksaan phisik (tinggi, berat dan mata) kemudian X-ray dan terakhir tekanan darah dan riwayat kesehatan oleh dokter. Selesai pemeriksaan kesehatan aku dipersilakan untuk menunggu kembali diruangan awal saat aku datang. Sambil menunggu, kutanyakan tentang nasib ke 2 temanku (Alce dan Bayu) yang seharusnya mereka dapat schedule lebih awal dariku, karena mereka datang 1 bulan lebih awal dariku.

Petugas menyampaikan kalau keduanya juga sudah dijadwalkan lebih awal (Bayu; 11 Nov 2011 dan Alce;25 Oktober 2011) kusampaikan bahwa mereka sama sekali belum mendapatkan surat atau email dari OFII. Dia meminta no telpon Alce & Bayu untuk di telp minggu depan.

Tak lama petugas administrasi, menemuiku dan menyerahkan passportku yang sudah ditempel deng VLS (Visa Long Sejour) Asyik…berarti sudah lengkap semua persyaratan administrasiku. Dengan VLS aku juga sudah bisa keluar Perancis, mengunjungi Jeman, Belgia, Belanda, Italy atapun Spanyol. Ya mudah-mudahan tawaran Robby (S-3 di INRA Rennes) untuk jalan-jalan ke Jerman di akhir tahun jadi kenyataan…

Tak terasa waktu sudah sore, kulihat jam sudah menunjukkan jam 16.30. masih ada waktu sekitar 1,5 jam lagi. Kulangkahkan kaki menyusuri blok-blok bagunan yang bergaya “Renaissance” sampai akhirnya aku memasuki  “Passage Pommeraye” yang menjadi salah stu ikon kota Nantes, Gedung pertokoan yang berdiri sejak 1843, sangat anggun dengan berbagai ornament dan patung-patung bernilai seni tinggi, tidak hanya itu di dalamnya juga berjejer took-toko boutique yang menjual berbagai barang yang menarik, banyak sekali pamflet/penawaran diskon menyambut natal & tahun baru, tapi buatku harganya tetap mahal.


Puas melihat-lihat barang-barang di Passage Pommeraye, kulanjutkan perjalanan meuju la gare, tapi ada yang menarik perhatianku. Tepat di depan sebuah pertokoan besar kulihat pedagang kaki lima dengan “gerobak dorong” seperti di Indonesia. Ha…ha.. baru kali ini aku melihat kaki lima di Perancis.
Perutku…ternyata sudah mulai bernyanyi, baru sadar kalau aku belum makan siang, padahal sekarang sudah jam 17.00 sore, sambil berjalan menuju la gare kutemui sebuah kios ‘’Kebab’’ yang kuyakin cukup murah (5E) dan mengeyangkan. Apalagi tertulis besar di papan reklamenya HALAL. Penjualnya berasal dari Tunisia, tapi sayang dia tak mengizinkan ku untuk mengambil gambar tokonya. 

Selesai menikmati kebab, aku segera berlari kecil meuju ka la gare, saat diruang tunggu kulihat banyak sekali orang yang menganti baik di loket maupun di mesin tiket otomatis. Aku baru ingat kalau hari ini adalah hari Jum’at, hari terakhir kerja atau sekolah, sehingga banyak orang yang pulang kampung ke kota-kota kecil disekitar Nantes, atau berlibur ke kota-kota besar lainnya seprti Paris, Bordeaux, Champagne, La Rochelle atau Rennes.

Tepat jam 18.11 TER tujuan Angers St laud, siap di Voie 5, segera kumasuk ke TER, karena udara malam di Nantes cukup dingin mungkin < 5°C. Alhamdulillah selesai juga perjalanan panjang hari ini.

"Ayam Kari" - a la chef A-KA


SABTU , 03 DECEMBER 2011
Aku terbangun jam 03.00 pagi, ya ampun laptopku belum mati dari semalam, plus aku lupa sholat Isya, mungkin karena kecapaian… aku tertidur pulas.

Langsung aku ke WC untuk berwudhu  sholat isya + sholat tahajud, selesai sholat kucoba membaca print journal yang belum juga terbaca (padahal program membaca sudah “kewajiban”)

Opps…kaget aku terbangun oleh suara BB, kulihat jam ya…ampun aku ketiduran sekarang sudah jam 10 pagi, lewat dech sholat subuh..

Kunyalakakan laptop melanjutkan me “re-type” catatan European Civilization yang aku pinjam dari Jennifer Roblez mahasiswi M2 dari Peru. Jam 11.00 anak-anakku sudah menunggu skype dariku. Seperti biasa si bungsu “Audy” selalu mendominasi pembicaraan di skype. Celotehnya sebagai pengobat rindu, via skype seakan kami sekeluarga berkumpul kembali, sambil belajar ataupun menonton TV, kedua anakku (Aulia dan Audy) dapat bercerita panjang lebar tentang kegiatan mereka, begitupula dengan mantan pacarku (istriku)….

Hari ini, sambil membersihkan kamar, kudengar cerita mereka, senangnya!!!!. Ya allah terima kasih atas kemudahan yang kau berikan, 

Jam 11.30 aku pergi ke pasar, karena persediaan sayurku sudah habis dan niatku hari ini, ingin mencoba resep “Ayam Kari” yang bumbunya sudah kubeli beberapa hari yang lalu di toko Asia, dekat centre ville.

Hujan gerimis seharian membuat suhu semakin dingin, belum lagi angin yang bertiup kencang hrrrrrr… dingin sekali…

Buru-buru aku belanja sayur (tomat, brokoli, buncis, jamur dan jahe) cukup untuk persediaan 1 minggu, langsung mampir ke toko Asia lagi untuk membeli cabe rawit dan ikan teri (lumayan 2E bisa buat persediaan 1 bulan) dan yang paling penting beli ayam (chicken Wing) di Monoprix (toko swalayan di tengah kota)

Setengah berlari aku kembali ke Einstein, jam 13,00 aku sampai dikamar, sambil menyiapkan bahan-bahan untuk masak “Ayam Kari”. Ku nyalakan laptop untuk bisa skype, agar istriku bisa membimbing saat memasak nantinya. Alhamdulillah skype lancar lagi….., Layaknya “kelas jarak jauh” sang instruktur (istriku) yang berada 30.000 km di Jakarta, memberikan arahan kepada calon koki, tentang cara memasak yang baik…ha..ha..

Ehmmm bau kari dan kentang membuat perutku bernyanyi riang, Jam 15.00 baru masakan pertamaku selain tumis-menumis jadi. Dan sebagai sayur-mayurnya cukup dengan rebusan wortel dan buncis. Yummy…    Ayam Kari siap dinikmati. Porsinya memang kubuat cukup untuk 2 hari, jadi selama Sabtu dan Minggu aku tidak perlu masak lagi (Iritttttttt). Anak + istriku, yang menyaksikan (via skype) aku makan dengan lahap juga senang…, 

Jam 16.00 pak Sabri mengabarkan kalau pak Djoko dkk (temen-temen dari ISTIA) pada kumpul di kamarnya, untuk membahas kepengurusan PPI Angers, sampai dengan jam 18.00 kami berkumpul semua (12 orang) di kamar kecil pak Sabri yang berukuran 19m, sambil menikmati kolak ubi, buatan mbak Alce….yummy.