Minggu, 17 Januari 2016

2nd Days West Java Overland - The Oldest Tea Plantation " The Malabar Plantation"



2ndDays (January 13, 2016)
Suara nyanyian burung sudah terdengar diluar, tanda hari sudah fajar. Tanda waktu menunjukkan pukul 05.30, sudah hampir kesiangan untuk sholat Subuh, selesai sholat aku berjalan keluar kamar, semalam aku dan pak Cecep (Dosen Guiding sekaligus Tour Leader kegiatan ini) menginap di kamar kedua yang berada di rumah utama Bosscha.. kesempatan yang jarang diberikan kepada pengunjung lainnya.
Tampak depan Rumah K.A.R Bosscha
Ruangan tamu dimana kami menikmati hidangan rebusan dan minuman bandrek semalam, ternyata sangat luas dan antik,  berbagai furniture yang ada di ruangan tersebut masih asli yang berasal dari abad ke-19, di zaman Hindia Belanda. Rumah ini dibangun pada tahun 1896 oleh Karel Albert Rudolf Bosscha,  namanya sangat terkenal di daerah Priangan, selain salah seorang pengusaha kaya pemilik perkebunan teh Malabar yang terluas, ia juga salah seorang peneliti yang sangat aktif mengembangkan ilmu pengetahuan  astronomi di zamannya, Peninggalannya yang masih banyak digunakan sampai kini adalah teropong Bintang Bosscha (Bosscha Observatory)[1] yang berada dikawasan Lembang Bandung (15 km barat daya kota Bandung).
Beberapa Furniture Rumah K.A.R Bosscha yang masih asli
Kini rumah Bosscha menjadi salah satu penginapan Agrowisata yang dikelolah oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII Unit Malabar. Rumah yang besar ini hanya memiliki dua kamar, yang salah satunya aku tempati semalam, sedang untuk tamu lainnya telah dibangun beberapa bungalow yang terletak di halaman belakang rumah utama dengan pemandangan bukit teh Malabar.  
Beberapa bungalow yang berada dirumah utama Bosscha
Suasana penginapan ini begitu tenang dan asri, didepannya terdapat lapangan luas yang menjadi tempat berbagai aktifitas para tamu yang menginap disini, seperti yang aku lihat pagi ini, beberapa mahasiswa dari salah satu universitas di Korea yang telah menginap sejak beberapa hari yang lalu, melakukan kegiatan senam pagi ala Korea, kebetulan sebelumnya aku sempat berbincang dengan dosen pembimbing mereka Prof. Choi yang mengajakku untuk bergabung bersama mereka…
Selesai senam bersama, kusempatkan untuk melihat suasana sekitar penginapan, banyak sekali anak-anak SD yang berangkat sekolah dengan berjalan kaki didepan rumah penginapan Bosscha. Ternyata dibelakang rumah penginapan terdapat perumahan para karyawan perkebunan teh Malabar, dan sebuah SMP Negeri….
Anak-anak setempat yang sedang berangkat sekolah
Pukul 07.30 Sarapan pagi dengan menu nasi goreng, telur goreng serta timun dan tomat sudah tersedia. Kepulan asap dari nasi yang baru digoreng dan bau bawang goreng membuat perut langsung minta diisi..
08.30 semua mahasiswa telah selesai berkemas dan siap untuk melanjutkan perjalanan hari kedua dari West Java Overland. Tujuan pertama pagi ini adalah meninjau pabrik Teh Malabar yang jaraknya hanya berkisar 5 km dari tempat kami menginap. Sepanjang perjalanan yang nampak hanyalah hijaunya pepohonan teh, nampak seperti permadani hijau…
Hamparan hijaunya perkebunan teh Malabar
Memasuki Pabrik pengolahan Teh Orthodoks Kebun Malabar (nama Orthodoks diberikan karena proses di pabrik ini masih menggunakan sistem lama). Bangunan yang usianya sudah ratusan tahun ini, nampak tak terlalu terawat dengan baik, cat dinding maupun atapnya sudah nampak kusam dan berlumut…
Di dinding ruangan sebelum masuk ke pabrik, photo-photo sejarah kebun teh Malabar saat zaman Hindia Belanda ditampilkan. Kami juga ditemani oleh salah seorang mandor sekaligus guide kami selama berada di pabrik. Beliau yang menjelaskan sejarah serta proses pengolahan teh mulai dari pemetikan daun teh di kebun hingga pengiriman ke konsumen. 
Kantor Pekebunan Teh Malabar

Penjelasan sebelum masuk ke pabrik
Proses pelayuan daun teh
Proses pengilingan daun teh menjadi serbuk teh
Memasuki Pabrik, tercium khas bau daun teh yang sedang prose pelayuan dan digiling, hingga siap untuk dikemas. Selesai berkeliling pabrik kami diajak untuk masuk kedalam ruangan tester, ruangan yang menjadi pusat penyeleksian kualitas dari teh (quality tester) yang dihasilkan pabrik ini. Di dalam ruangan ini kami ditunjukkan cara mencicipi seduhan air teh dari berbagai jenis daun teh, dari yang paling jelek hingga yang paling baik, begitu pula dengan harganya..
Teh yang paling baik kualitasnya adalah White tea, yang harganya bisa mencapai Rp 12 juta/kg, yang paling banyak di export ke Jepang… Teh Jenis ini sangat memperhatikan kualitas daun tehnya,  berasal dari pucuk daun teh pilihan yang masih kuncup dan diambil sebelum matahari bersinar. Sebelum meninggalkan Pabrik Teh, kami masih berkesempatan untuk membeli beberapa jenis teh berorama yang dijual di Tea Corner, didepan pabrik teh Malabar.
 
Proses "Tea Tester"
Contoh "White Tea"
Contoh daun teh kualitas 2
Pukul 11.30 perjalanan dilanjutkan menuju Situ (Danau Buatan) Cilenca, untuk mengikuti kegiatan rafting/arung jeram di sungai Palayangan. Setibanya di situ Cilenca, kami langsung disambut oleh para crew dari elhaqi adventure[2] sebagai provider kegiatan rafting. Pembagian kelompok dan penjelasan singkat tentang kegiatan rafting dilakukan sebelum kami berangkat menuju sungai Palayangan, yang berada diujung situ dengan kendaraan angakutan desa. Rafting yang kami ikuti cukup menantang, karena sungai Palayangan berstatus grade III+ dengan panjang ±4, 5KM, dalam keadaan normal bisa ditempuh selama ± 2 jam.
Sungguh menyenangkan dan menegangkan, memacu adrenalin sejak dari  awal hingga akhir rafting, beberapa kali terdapat jeram yang dalam dan terjal, namun dengan dukungan perlengkapan dan crew yang berpengalaman, semuanya berjalan aman dan lancar. Hutan Pinus dan kebun-kebun sayur menjadi pemandangan sepanjang sungai yang berakhir di tengah perkebunan teh Malabar.

14.00, hujan deras kembali turun saat kami selesai rafting, perjalanan kembali ke Situ Cilenca, melalui jalan berliku dan menanjak ditengah perkebunan teh, menjadi hiburan tambahan setelah puas rafting. Selepas mandi dan berganti pakaian, kami menikmati makan siang di salah satu warung nasi yang disediakan oleh pihak provider rafting, udara dingin menambah nikmatnya makan siang kami…Perut kenyang, dan letih setelah bermain rafting, membuat selama perjalanan kami menuju Cipanas-Garut, terlelap pulas..
20.00 malam, kami tiba di daerah Cipanas-Garut yang terkenal akan sumber air panasnya (hot spring water), tempat kami menginap malam kedua ini  adalah Hotel Cipaganti 2, ditiap kamarnya dilengkapi dengan kolam rendam air panas yang mengalir selama 24 jam, cocok untuk menghilangkan letih selama perjalanan hari ini.


[1] bosscha.itb.ac.id
[2] http://raftingpangalengan.com/paket/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar