Minggu, 17 Januari 2016

3rd Days West Java Overland – Green Village “ Kampung Naga”



3rd Days (January 14, 2016)
Pukul 03.00, aku terbangun karena alarm hanphone berbunyi, baru sadar aku kalau semalam tertidur pulas hingga lupa untuk sholat Isya…Selesai sholat Isya dilanjutkan sholat Tahajud, sulit untuk tidur kembali, langsung aku ke kolam berendam air panas yang berada di kamar mandi, pelan-pelan aku masukkan bagian tubuh mulai dari kaki, lutut, pinggul, hingga badan, agar panasnya tak mengagetkan tubuh. Aku hanya bertahan 10 menit.. tak kuat berendam terus, walaupun katanya baik bagi kesehatan, tapi aku tak mau resiko kulitku melepuh menjadi albino… ha..ha..ha 
Suasana hotel Cipaganti 3 Cipanas-Garut
Tiap kamar memiliki kolam rendam sendiri
Fasiltas kamar sederhana
Selesai berendam, ternyata rasa kantuk datang kembali…tertelap sebentar hingga azan subuh berkumandang, selesai sholat subuh, aku berjalan keluar kamar untuk berkeliling sekitar hotel. Langit  pagi ini nampak jernih hingga Gunung Guntur yang berada didepan hotel nampak terlihat sempurna, Gunung inilah yang menghasilkan air panas sepanjang masa didaerah ini. Di kabupaten Garut memang banyak ditemukan sumber mata air panas amupun uap panas bumi, bahkan sebuah Pembangkit Listri Panas Bumi (Geothermal) terbesar di Indonesia besar yakni PLPB  Kamojang berada di kabupaten ini.
 
 
Penampakan hotel lain yang berada di Cipanas-Garut
 
 
Panorama alam dan keindahan bungalow yang dimiliki Banyu Alam Resort
 
Kolam ikan di Hotel Cipaganti 3, berlatar Gunung Guntur
Pukul 08.00, semua mahasiswa telah bersiap untuk melanjutkan perjalanan siang ini, yakni mengunjungi pusat industry kulit yang terkenal dari Garut. sempat mampir sebentar di pusat oleh-oleh untuk membeli jajanan khas Garut, apalagi kalau bukan Dodol dan Krupuk kulit yang terkenal itu.
Inilah bus wisata yang kami gunakan selama perjalanan West Java Overland

Tiba di Jl A Yani kota Garut yang menjadi sentra perdagangan hasil kerajinan kulit para UMKM se Garut, yang menampilkan banyak macam, mulai dari jaket, topi, tas, dompet, dll. Sempat aku menanyakan harga beberapa jaket yang modelnya cukup menarik… wow harganya masih sangat mahal untuk kantongku, paling murah berkisar Rp 1 – 1,5 juta/pcs..Hanya sebentar kami disini, perjalanan panjang masih menanti yakni ke Kampung Naga yang berada sekitar 26 km dari kota Garut.
Butik-butik yang menawarkan berbagai kerajinan berbahan kulit di kota Garut
Pukul 11.00, setelah perjalanan yang berliku dan naik turun, walaupun dengan pemandangan alam yang menarik disisi kanan-kiri jalan, tetap saja membuata beberapa mahasiswa mabuk, bahkan beberapa ada yang sempat muntah…Kami tiba di Desa Adat - Kampung Naga[1], Kabupaten Tasikmalaya,  ternyata posisinya berada di lembah yang berjarak ±500m dari pintu masuk, yang berada tepat ditepi sungai Ciwulan.
Desa kecil yang total luas nya hanya 1.5 Ha ini, telah menjadi ikon desa Adat yang masih memegang teguh wawasan lingkungan, sehingga beberapa kali pemangku adatnya menerima penghargaan akan kepedulian terhadap lingkungan. Banyak hal yang dapat dipelajari dari pola hidup masyarakat kampung Naga ini yakni cara hidup berdampingan dengan alam yang baik.
Berpose depan pintu gerbang, area Kampung Naga
Menyusuri tangga menuju kampung Naga

 

Kampung Naga yang berada di lembah
Dikampung ini semua rumah berpentuk panggung, dengan bahan bambu dan kayu, sedang atapnya terbuat dari Ijuk atau alang-alang, sedang lantainya terbuat dari bamboo,tidak mengenal cat, kecuali kapur atau dimeni dan harus menghadap ke Utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang dari barat ke timur.
Selesai berkeliling Kampung Naga, perjuangan yang melelahkan adalah menaiki 430 anak tangga keatas, tempat bus kami terparkir… 
 
Bentuk rumah Kampung Naga yang terbuat dari bambu, kayu dan Ijuk

 
 

Mendengarkan penjelasan guide lokal

Dapur sederhana warga Kampung Naga
Berpoto dengan guide lokal di halaman masjid Kampung Naga
Bertani adalah pekerjaan utama penduduk Kampung Naga
Mengatur napas, untuk mendaki anak tangga keatas
Pukul 12.30 perut lapar dan keringat selepas mengunjungi kampung Naga, menambah nafsu makan siang kami saat tiba di rumah makan Asep Stroberi yang menyajikan Nasi liwet lengkap dengan hidangan lauk-pauk seperti empal, ikan asin, tahu temped an lapapan khas Sunda… laziss
Nampak depan RM. Asep Stoberi
Nampak Belakang RM. Asep Stroberi
Nasi liwet....lazisss
14.00 perjalanan berlanjut ke pesisir selatan provinsi Jawa Barat, yakni ke pantai Pangandaran yang terkenal akan keindahan alam serta pantai putihnya. Perjalanan menuju ke sana cukup terhibur dengan berbagai tingkah laku mahasiswa yang beryanyi, menari dan berjoget ria dalam bus, layaknya diskotik berjalan…hingga perjalanan yang berliku tak terasa. Selepas magrib kami tiba di pantai selatan Pangandaran, tepatnya didekat pelelangan ikan, dengan tujuan untuk menikmati makan malam berupa sajian hidangan laut (seafood) segar.  Yang menarik adalah banyak rusa-rusa liar yang berkeliaran disekitar pasar ikan, rusa-rusa ini berasal dari Cagar Alam Pangandaran yang  menjadi habitat beberapa hewan langka lainnya. Ada pula beberapa “odong-odong”, yang bentuknya menarik, seperti mobil VW. 
Odong-odong unik
Ikan segar, menu makan malam kami
Hidangan Ikan laut segar, cumi tepung dan tumis kangkung nikmat sekali rasanya… hingga berpeluh, selesai dengan makan malam kami langsung menuju  Surya Pesona Beach Hotel, yang menjadi tempat kami bermalam di Pangandaran
Tidurrrrrrrrrr.......


[1] http://arsipbudayanusantara.blogspot.co.id/2013/05/kampung-naga-kampung-adat-di-jawa-barat.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar