Minggu, 17 Januari 2016

1st Day West Java Overland - Braga Area, Old Town Bandung City



1st Day (January 12, 2016)
Seperti tahun–tahun sebelumnya, salah satu kegiatan praktek lapangan yang dilakukan oleh para mahasiswa jurusan Usaha Perjalanan Wisata di Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid, adalah melakukan Jawa Barat Tour, kegiatan ini dilakukan oleh mahasiswa semester 1, sekaligus sebagai ujian praktek mata kuliah Guiding dan Perencanaan Operasional Perjalanan Wisata. Kali ini aku berkesempatan untuk secara langsung mengamati kegiatan ini.
Tahun ini ada 35 mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini. Keberangkatan dari kampus Pondok Cabe, dimulai sangat pagi sekali (03.00) dengan alasan agar tidak terjebak macet selama perjalanan.
Gedung Sate - Pusat pemerintahan provinsi Jawa Barat
Dihari pertama dari Lima hari kegiatan West Java Overland akan dimulai dengan  singgah terlebih dulu di Ibukota Provinsi Jawa Barat, apalagi kalau bukan Kota Bandung, yang sangat terkenal dengan berbagai objek wisatanya, mulai dari wisata kuliner, budaya hingga alam. Apalagi sejak Bandung dipimpin oleh Kang Emil (Panggilan M. Ridwan Kamil) walikota-nya yang selalu mengaku sebagai anak twitter; Panataan kota Bandung menjadi perhatian utamanya, berbagai taman-taman baik yang sudah ada maupun yang baru  dibangun dibanyak tempat dikota Bandung dengan tema-tema yang menarik, seperti: taman Jomloh, taman Film, Taman, seni dll. Kota Bandung  seolah semakin menjadi  trend setter  bagi kota-kota lainnya di Indonesia.
Jam 07.00 kami sudah  memasuki kota Bandung via tol Cipularang, kami langsung naik ke jembatan Pasopati (Pasteur-Suropati) yang membelah kota Bandung menjadi Bandung Utara dan Bandung Selatan, diujungnya langsung terlihat gedung besar yang sangat terkenal “Gedung Sate”. Gedung besar dengan ornamen tusuk sate yang berada dipuncak bangunannya kini menjadi pusat pemerintahan provinsi Jawa Barat (Kantor Gubernur).  Dengan bus yang bergerak lambat menyusuri jalan-jalan utama yang berada di daerah elite kota Bandung, Setibanya di depan Hotel Panghegar semua peserta diturunkan untuk berjalan kaki menuju salah satu ikon wisata kota Bandung, yakni Museum Konfrensi Asia-Afrika yang berada di Gedung Merdeka, sambil menyusuri Jalan Braga yang terkenal itu.  
Papan nama Jl Braga
Sejak tahun 1900an, jalan Braga[1] sudah terkenal dengan toko-toko dan tempat-tempat hiburan serta restoran dan bar bagi orang-orang berkebangsaan Belanda dan Tionghoa. Bahkan pada tahun 1920-1930 dijalan ini menjadi pusat toko-toko dan boutique pakaian-pakaian yang mengambil model dari Kota Paris sebagai kiblat Model saat itu, itu juga yang menyebabkan Bandung sering kali disebut Paris van Java. Apalagi di daerah ini terdapat berbagai penginapan dan hotel mewah sebagai tempat singgahnya para kaum elit Hindia –Belanda (terutama para pengusaha perkebunan di daerah Priagan), seperti Hotel Savoy Homann, Hotel Preanger dll. Disini juga terdapat gedung Societeit Concordia yang menjadi pusat pertemuan para hartawan warga Bandung. Di kawasan ini kemudian dibangun berbagai gedung perkantoran dan bank-bank yang semakin meramaikan kawasan jalan Braga dan sekitarnya.
Beberapa perkantoran yang berada di Jl Braga
Gedung Bank yang ada di Jl. Braga
Hingga kini kawasan Braga menjadi kawasan pavorit tempat hiburan dan perbelanjaan bagi pengunjungnya. Bangunan-bangunan yang berada di jalan Braga masih dilestarikan sebagai peninggalan sejarah, sekaligus sebagai kawasan wisata. Bagunan-bagunan kuno dengan gaya arsitek artdeco, banyak dijadikan background berphoto, terutama bagi wisatawan yang datang ke Bandung.
Para mahasiswa yang sedang praktek Guiding di depan Gedung Merdeka

Gedung Merdeka yang menjadi salah satu tempat bersejarah bagi perjalanan kemerdekaan Indonesia, sebagai tempat diselengarakannya Konfrensi Asia-Afrika di tahun 1955, semakin menambah daya tarik kawasan kota tua Bandung ini. Gedung merdeka yang dibangun pada tahun 1921 dengan C.P. Wolf Schoemaker sebagai arsiteknya. yang di era Hindia Belanda bernama Societeit Concordia, lalu berubah menjadi Dai Toa Kalkan pada saat Jepang menduduki Indonesia, hingga berganti nama menjadi Gedung Merdeka oleh Presiden Soekarno saat diadakannya Konfrensi Asia-Afrika. 
Penjelasan Guide Museum KAA
Ruang diorama Konfresi Asia Afrika

Berphoto bersama di Ruang KAA
Ruang KAA

Berbagai koleksi atribut dan catatan sejarah kegiatan Konfrensi Asia-Afrika dikumpulkan di gedung yang kini menjadi Museum Konfrensi Asia-Afrika (KAA). Beberapa mahasiswa mendapatkan giliran untuk menjelaskan (guiding) kepada teman-temannya tentang sejarah dan keberadaan kawasan Braga dan gedung Merdeka ini. Selama 1,5 jam berada di dalam museum didampingi oleh guiding professional yang menjelaskan sejarah KAA, diakhiri dengan pemutaran film sejarah KAA.
Jam 11.00, kami meninggalkan gedung Merdeka untuk singgah sebentar di Sabuga[2] (Sasana Budaya Ganesha) ITB Convention Centre sebuah gedung serba guna yang cukup terkenal di kota Bandung. Gedung yang memiliki kapasitas indoor bisa mencapai 2000 orang ini, menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari Institute Tehnologi Bandung, karena kegiatan Wisuda setiap tahunnya dilakukan digedung ini. Setelah mendapatkan penjelasan dari pengelolah Sambuga, kami diajak site inspection meninjau lokasi dan fasilitas yang dimiliki  seperti Science Gallery, Kids Smart dan Dome Theatre. 
Makan Siang di Nu Art Galery
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, hujan lebat mengiringi perjalanan kami menuju  Nu Art Gallery (NAG)[3] sebuah gallery karya-karya seni pematung terkenal Indonesia, Nyoman Nuarta… Bagi yang pernah mengunjungi pulau Bali, pasti sudah pernah melihat patung Garuda Wisnu Kencana…. itu adalah salah satu master piece yang pernah ia kerjakan. Di NAG yang dibuka untuk umum sejak tahun 2000 yang lalu dengan luas mencapai 3 Ha dan terletak di Jl. Sentra  Duta Raya Bandung ini, selain Museum yang menampilkan berbagai karya seni  patung, sekaligus juga menjadi workshop dan restoran terbuka yang dapat dikunjungi oleh umum. Menu sederhana makan siang (Pecak kangkung, berbagai sambal khas Bali, Nasi putih serta Ayam goreng) kami telah tersaji dengan rapih di restoran NAG saat kami tiba, rasanya mak yuss….. apalagi diluar masih rintik hujan mengguyur kota Bandung… Selesai menikmati santap siang, kami diajak berkeliling ke Museum NAG, didampingi oleh guide local, seperti halnya museum seni lainnya, pengunjung dilarang memotret, sebagai perlindungan hak cipta bagi seniman. Berbagai patung logam yang bernilai seni tinggi dengan harga ratusan juta rupiah,  ditampilkan dengan menarik di museum 3 lantai tersebut. 
Mengujungi Museum Nu Art
Hujan sudah mulai redah, dan waktu sudah menunjukkan pukul 14.00,  perjalanan hari ini dilanjutkan menuju Saung Mang Udjo. Sanggar seni Angklung ini menjadi objek wisata yang wajib dikunjungi saat berada di kota Bandung. Selama 2 jam para pengunjung akan dihibur dengan berbagai seni pertunjungan ditampilkan di sini, mulai dari tarian, wayang golek hingga musik-musik khas Sunda, yang sebagian besar diiringi dengan alat musik Angklung. Para pengunjung bukan hanya dari dalam negeri namun juga dan wisatawan manca negara. Saung Mang Udjo sendiri sudah berdiri sejak tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena dan Istrinya Uum Sumiati, beliau berdua dengan gigih dan tekun menyebarkan dan melestarikan kebudayaan dan kesenian  khas Sunda ini hingga diakui oleh mancanegara. Team Angkung Mang Udjo telah mengunjungi berbagai negara untuk mengadakan pertunjukkan musik Angklung.[4]    
Pertunjukkan musik Anglung yang dimainkan oleh anak-anak
Hujan kembali mengguyur deras Kota Bandung, saat pertunjukan Angklung, selesai.. sambil menunggu hujan reda,  kami sempatkan untuk menikmati teh hangat dan somay Bandung di kantin Saung Mang Udjo, dilanjutkan dengan sholat Magrib berjamaah.
Pukul 19.00, Hujan sudah berhenti, haru juga sudah mulai gelap… makan malam berupa lunch box, kami nikmati dalam perjalanan menuju penginapan kami di rumah Bosca yang berada Perkebunan Teh Malabar di daerah Pengalenggan, arah selatan Kota Bandung. 3 jam perjalanan bus  yang menyusuri jalanan berliku, hujan gerimis serta kabut, tak terlalu dihiraukan, karena sebagian besar mahasiswa sudah terlelap tidur. Jam 22.30 kami tiba di rumah besar yang berada di dataran tinggi Pengalengan. Udara dingin sudah mulai menusuk kulit. Oleh penjaga rumah kami diminta untuk menikmati  hidangan sederhana berupa rebusan kacang, singkong dan pisang serta bandrek,  cukup menghangatkan tubuh sebelum masuk ke kamar masing-masing.


[1] http://tempatwisatadibandung.info/jalan-braga-bandung/
[2] http://www.sabugacenter.com/
[3] http://www.nuarta.com/park.htm
[4] http://www.angklung-udjo.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar