Minggu, 03 Juli 2016

Ke Timur (Lagi)...Ternate - Tidore (Part 1)



Tugas perjalanan  yang diberikan KEMENPAR (Kementrian Pariwisata) ke Timur Indonesia kali ini lebih jauh lagi, yakni ke Provinsi Maluku Utara, kota Ternate tepatnya. Selepas Isya, aku diantar istriku menuju terminal Bus DAMRI Barangnangsiang – Bogor. Pukul 21.00, bus terakhir siap berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta, tak banyak penumpang dalam bus terakhir ini, sepanjang jalan hujan gerimis  dan semakin lebat saat tiba di bandara pukul 23.00. Sebagian besar penumpang sudah turun di terminal I, tinggal aku dan seorang penumpang yang masih melanjutkan ke terminal II, tepatnya 2E, dimana penerbangan  Garuda untuk Domestik.  Setelah check in, masih ada waktu sekitar 2 jam sebelum boarding, masih sempat untuk mampir ke KFC yang berada di depan terminal 2E, paket Ayam+Nasi dan sebotol Aqua kecil menganjal perut untuk sementara. Masuk kembali ke terminal, langsung menuju ke Gate F4, belum dibuka untuk penerbangan ke Ternate, jadi masih harus menunggu dulu di luar. Sambil menunggu kusempatkan untuk membaca beberapa materi pelatihan yang akan kusampaikan di Ternante nanti.
Tak lama, ruang tunggu F4 dibuka, diluar hujan semakin menggila, sambil menunggu kuhabiskan sandwich buatan istriku.  Jam 01.00, penumpang dipersilakan menuju pesawat yang berada di terminal 3 dengan menaiki bus.  Duduk di seat 31H ruang kaki lebih luas, karena berada di samping jendela darurat.  Awalnya kupikir tak terlalu banyak penumpang, tapi ternyata hampir 90% terisi, sepertinya jadwal penerbangan ke Ternate di malam hari menjadi pavorit bagi warga Ternate yang ingin pulang kampung, karena tidak terjebak macet di jalanan Jakarta menuju Bandara, selain itu sampai di Ternate jam 07.30, waktu yang cocok untuk businessman yang ada urusan singkat di Jakarta maupun di Ternate.
Perjalanan selama 4 jam ini, lebih banyak dihabiskan dengan mendengarkan musik dan tidur, sempat terbangun saat pramugari menawarkan sahur berupa pasta sederhana.  Walau selama 30 menit pertama hujan deras dan sedikit gocangan, secara umum perjalanan cukup nyaman.
Damri Bogor-CGK       50K
KFC                             39K
Pulsa Telp                      50K


 

Sabtu,18 Juni 2016
Sinar matahari bersinar terang diluar sana, cukup menyilaukan, tapi pemandangan indah pulau-pulau di bawahnya terlihat jelas. Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Sultan Babullah Ternate pukul 7.20. Gunung Tidore dan pulau Maitara sudah nampak di seberang pulau.
Seperti yang sudah diinformasikan oleh ibu Tika dari Kemenpar, kalau di bandara akan dijemput oleh panitia setempat, yang juga akan menjemput pembicara lainnya, bapak Daniel seorang Instruktur Selam. Di pintu keluar bandara, sudah kulihat seseorang yang membawa papan nama, didampingi seorang yang berpenampakan Indo, ternyata dia adalah pak Daniel (yang memiliki ibu berkebangsaan Jerman). Setelah berkenalan kami menuju mobil jemputan, sebuah kijang innova hitam yang membawa kami ke Hotel Muara, hanya butuh ±20 menit, kami sudah tiba di Hotel yang menurutku yang terbesar dan tertinggi di kota Ternate ini.
 

Aku mendapatkan kamar di 610 dengan pemandangan Gunung Gamalama, berhadapan dengan kamar pak Daniel di 609, lantai paling atas di hotel ini, dan bersebelahan dengan Hall tempat diadakannya pelatihan Kemenpar ini. Setelah menempatkan tas dan cuci muka di kamar, aku sempatkan untuk melihat situasi di Hall, ternyata acara pembukaan Pelatihan akan segera dimulai, para peserta yang jumlahnya mencapai 200 orang dan berasal dari berbagai kalangan sudah datang, beberapa diantara mereka ternyata adalah anggota TNI/Polri dan beberapa mahasiswa UNHAIR Ternate.
 
 

Ibu Flora sebagai ketua panitia dari kemenpar meminta seluruh pembicara juga hadir dalam acara pembukaan yang akan dibuka oleh kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Maluku Utara, Bpk Anwar Husein, namun sampai jam 09.00, beliau belum juga hadir, akhirnya acara pembukaan molor hingga jam 10.00 stelah bapak Kepala Dinas Hadir, biasalah birokrat negeri ini…
Selesai acara  pembukaan secara resmi pelatihan, aku langsung turun ke lobby hotel di lt 3 menanyakan cara untuk mengunjungi objek-objek wisata yang ada di Ternate. Mereka menyarankan aku untuk mencari tukang ojek yang bisa mengantar keseluruh tempat-tempat tersebut, apalagi pulau Ternate ini kecil, bisa dikelilingi cukup  1,5-2 jam saja.  Dengan tangga aku menuju ke lantai dasar, ternyata lantai 1-3 di hotel Muara ini merangkap sebagai Muara Shopping Centre.
 
 

Didepan hotel sudah banyak tukang ojek yang  menunggu, di Ternate walaupun kotanya kecil ternyata ojek siap mengantar kita 24 jam keseluruh penjuru pulau ini, karena tingkat kriminalitas disini rendah sekali, belum lagi kebiasaan orang Ternate yang suka makan diluar dan jalan-jalan hingga dinihari.
Pak Arman, tukang ojek yang bersedia mengantarku berkeliling Pulau Ternate untuk mengunjungi seluruh objek wisata yang ada. Selama 4 jam, ia menjanjikan akan dapat mengunjungi semua tempat yang ada…Perjalanan dimulai menuju kearah timur, melewati Kedaton Sultan Ternate, tapi masih terkunci, sehingga kami langsung menuju ke Benteng Tolukko, yang memiliki bentuk yang unik (kalau dilihat dari atas, benteng ini memiliki bentuk seperti alat kelamin pria).
 
 
 
 
Benteng Tolucco atau amasyarakat setempat menyebutnya Toluko, adalah salah satu peninggalan Portugis, yang dibangun oleh Fransiscus Serao pada tahun 1540, dan dipugar kembali tahun 1864 oleh residen P Van der Crab (Belanda). Dari Benteng ini kita dapata melihat Pulau Halmahera, Tidore dan Maitara. Dulu Benteng ini digunakan untuk mengawasi kegiatan sultan ternate dan lalu lintas perdagangan di perairan Ternate. Masuk ke benteng Toluko sebenarnya gratis, cukup memberi donasi seikhlasnya kepada petugas yang menjaga kebersihannya.

 


Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalan dipinggir pantai, air laut yang jernih nampak dari kejauhan, belum lagi pemandangan gunung Tidore dan pulau Maitara menjadi icon photogenic.  Perjalanan dilanjutkan lebih ke utara untuk melihat Kawasan Wisata Batu Angus. Kawasan wisata yang terdiri dari magma yang membeku, menghasilkan batu-batu hitam seperti gosong terbakar (angus), menurut pak Arman, batu-batu ini banyak diambil masyarakat setempat untuk dijadikan bahan bangunan, tapi sekarang sudah dilarang. Disini aku bertemu dengan sekumpulan anak-anak SMP yang sedang beristirahat menikmati keindahan alam Ternate. Masuk ke kawasan ini Gratis…
 
 
 
 
 
 
 

Dalam perjalanan, aku melihat gedung BMKG yang cukup besar, Provinsi Maluku Utara cukup sering ditimpa bencana gempa, karena itu keberadaan BMKG cukup penting untuk memonitor dan mengawasi dampak bencana termasuk kemungkinan Tsunami.

Pantai Sumadaha, yang terkenal dengan kejernihan airnya menjadi tujuan berikutnya…saat pertama kali memasuki kawasan pantai aku agak kecewa, karena pantainya terlihat kotor dan tak terawat, belum lagi pasirnya berwarna hitam. Dipinggirannya berdiri beberapa pondok yang disewakan 50K kepada para pengunjung. Ternyata aku salah…pantai Sulamadaha ini memiliki lubuk yang berada sekitar 500m, berjalan kaki masuk ke dalam menyusuri pantai berbatu, dari sini nampak jelas pulau Maitara, diujung lubuk baru aku temukan tempat yang sering digunakan pengunjung untuk mandi air laut menikmati kejernihan air pantai Sulamadaha..jernih seperti kaca. Sayang dibeberapa tempat vandalisme pengunjung masih terlihat dengan banyaknya corat-coret dibeberapa tempat umum.
 
 
 
 
 
 

 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Selesai menikmati pemandangan air laut yang jernih, pak Arman minta dibelikan rokok, mampirlah kami ke sebuah toko untuk membeli rokok dan air minum, yang mengejutkan walaupun tokonya berada di desa dan sederhana, namun tanyangan televise yang mereka gunakan adalah TV Kabel..luar biasa

Selain pantai Sulamadaha, masyarakat Ternate kini sedang gemar mengunjungi pantai  Jalolo lain yang selain  memiliki air yang jenih, juga mempunyai pemandangan koral yang indah, pantai ini agak jauh masuk ke dalam, jalannyapun masih berupa batu koral yang belum diaspal dan turunan yang curam untuk sampai ke bibir pantainya. Dipantai ini kita tidak perlu menyelam untuk  melihat karang-karang yang dihiasi dengan koral-koral yang indah, dan ikan-ikan kecil warna-warni, seperti dalam aquarium..
 
 
 
 
 
 
 
 

Puas menikmati koral dan para teman-teman nemo… perjalanan dilanjutkan ke Danau Tolire, sebuah danau yang belum ada orang yang tahu berapa kedalamannya… Danau yang selalu berwarna hijau dan berada di kaki gunung Gamalama ini, memiliki tebing yang tinggi disemua sisinya, karenanya sangat jarang ada yang berani mencapai pinggir danau ini, belum lagi berbagai mitos mistis dan cerita adanya buaya siluman yang beredar dikalangan masyarakat menambah  keangkeran danau ini. Pengunjung yang datang ditawari untuk melemparkan batu ke dasar danau, bagi mereka yang melempar batu hingga sampai  ke permukaan sungai maka bernasib baik, karena banyak yang tidak sampai ke permukaan air danau. Sebenarnya yang menyebakan batu tidak sampai ke permukaan danau adalah jarak yang cukup jauh dari tempat melempar hingga ke bawah, ditambah  tiupan angin yang selalu membuat arah batu jatuh dipepohonan dipinggir danau. Dari 5 batu yang aku coba lempar, 2 batu masih bisa jatuh ke permukaan air danau, sedang sisanya selalu jatuh ke pinggiran danau…
 
 
 
 
 
 

Dalam perjalanan kami sempat mampir ke kolam renang yang berada tepat dipinggir pantai, namanya Bobane Ici, tapi karena bulan puasa, tempat ini terlihat lengang alias kosong. Pak Arman menujukkan sebuah Dam air kecil yang diberi nama Ake SIBU/Ake Rica, yang dulu dijadikan tempat pertama kali Belanda mendarat di Ternate.
 
 

Sepintas kami melewati reruntuhan Benteng Gamlamo (Santo Paolo Notrs Senora de Rosario) namun tertihat tak terurus..Pak Arman menjelaskan kalau ada sebuah objek wisata yang dulunya milik umum namun sekarang telah berpindah tangan menjadi milik priadi, yakni Danau Ngade…ulah para koruptor.
Tak jauh dari  didepan pintu masuk  kawasan wisata Danau Ngade, aku bisa melihat panorama alam yang selama ini digambarkan dalam pecahan uang rupiah 1000, dimana Pulau Maitara dengan Gunung Tidore menjadi latarnya.
 
 
 

Disebelah Selatan kota  Ternate, tepatnya di jalan Kalimata, kelurahan Bastiong, terdapat Benteng Kalamata yang dibangun tahun 1540 oleh Antonio Pigatveta dari Portugis sebagai benteng pertahanan dalama rangka perluasan daerah kekuasaan portugis di pulau Ternate. Namun tahun 1575, Spanyol menduduki benteng tersebut dan digunakan sebagai pos perdagangan. Dari benteng ini kita dapat melihat jelas Pulau Tidore yang berada di seberang dan pelabuhan ferry antar pulau yang berada tidak jauh dari benteng ini.
 
 
 
 

Sebelum kembali ke Hotel, aku minta pak Arman, untuk kembali mampir ke Kedaton Sultan, siapa tahu sudah dibuka, ternyata pagarnya sudah dibuka, tapi sayang bangunannya masih terkunci rapat… tapi tak apa, yang penting hari ini hampir seluruh objek wisata di Ternate sudah aku kunjungi.  Perjalanan embali ke hotel aku minta pak Arman melewati kawasan Pantai Swearing yang terkenal sebagai tempat konkow masyarakat kota Ternate, pantai yang langsung menghadap ke pulau Tidore ini, banyak terdapat warung-warung makanan khas Ternate, yang buka hingga dini hari…beberapa mall besar juga terdapat dikawasan ini, seperti Hypermart, Smart Mart dan Jatiland Mall. Serta pasar tradisional terbesar di Kota Ternate Pasar Higienis dan diujungnya terdapat masjid terbesar di kota Ternate, namanya masjid Al Munawwar
 
 
 
 
 

Oh iya, tadi setelah kami mengunjungi Benteng Kalamata, pak Arman menawarkan untuk mengunjungi Pulau Tidore, besok dengan menaiki perahu kayu, agar bisa membawa motor ojeknya berkeliling pulau tersebut. Aku menyetujuinya, agar lengkap cerita perjalananku untuk berkujung ke Ternate dan Tidore.
Donasi ke Penjaga Benteng Taduloko   10K
Air Mineral + Rokok Ojek                   20K
Beli Pudding                                          5K
Beli Batu di Danau                                 5K
Bensin                                                 10K
Nasi Kuning+Guhi+Ubi                        35K
Kue Manis                                             5K
Ojek                                                  100K

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar