Sabtu, 21 April 2012

Backpackers (Part I) Budapest... Pusat Budaya Eropa


Cerita bersambung ini, adalah pengalaman pertamaku melakukan perjalanan a la backpackers (budget sangat-sangat terbatas), untuk berkeliling eropa. Disela-sela liburan paskah 2012. Kali ini perjalananku adalah mengunjungi ibukota 3 negara di eropa timur yaitu; Hungaria (Budapest) – Slovakia (Bratislava)- Austria (Vienna), semoga bermanfaat..

Angers, 13 April 2012
Dari semalam aku tak bisa tidur, gelisah menunggu fajar datang… walau semalam aku telah menengak 2 buah aspirin  (panadol extra) untuk mengurangi sakit kepalaku… Jam 04.00 semua alarmku berbunyi… Yupp.. langsung kupersiapkan bahan-bahan untuk sarapan sekaligus makan siangku selama perjalanan hari ini. Menu yang mudah, murah dan meriah adalah “Nasi Goreng a’la Campur Aduk”.
Selesai masak dan beres-beres kamar, mandi dan sholat tahajud… masih ada ±15 menit lagi sambil menunggu sholat shubuh, cek email, Facebook serta beberapa tips perjalanan di laptopku… Alhamdulillah laptopku sudah kembali normal setelah 1 malam penuh di upgrade….(Thanks to Adriyan Chronicle)
Jam sudah menunjukkan waktu 06.05. Selesai sholat shubuh, kuperiksa kembali kebutuhan perjalanan. Rasanya semua sudah lengkap.. Bismillah!!! Aku menuju Tram station Terra Botanica, jam 07.00 aku sudah sampai di Fosch Aras. Niatku untuk menambah perbekalan uang cash di ATM BNP Paribas di tolak (mungkin karena kemarin aku sudah mengambil lebih dari 350€). Mudah-mudahan dengan bekal uang di dompet cukup selama perjalanan.

Paris - Bauvais
Gare Montpartnasse
Jam 07.13 TGV 8808(39€) yang akan membawaku ke Paris Montparnasse tiba..Hupp Voiture (gerbong) 17 assite (tempat duduk) 71, selama perjalanan 1h40 menuju Paris. 08.54 aku tiba di Station utama TGV Paris Montpartnasse[1] (jadi ingat kejadian enam bulan yang lalu saat aku baru datang dari Jakarta…berlari-lari mengejar kereta (TGV). Parissien (sebutan untuk warga Paris) berjalan laksana dikejar-kejar setan, mereka berjalan cepat atau boleh dibilang setengah berlari.
Lorong subway di Montparnasse
Tujuanku sekarang adalah berpindah ke Station  Gare du Nord[2], Station TGV yang berada di utara kota Paris untuk kemudian melanjutkan dengan RER (kereta regional) menuju Bauvais[3].  Dengan metro no.4 (1,70€)aku tiba di gare du Nord hanya dalam waktu 30 menit setelah melewati 12 station metro, tak susah untuk menemukan RER yang menuju Bauvais.

Gare du Nord
Jam 10.01 RER (13,20€)mulai bergerak menuju kota kecil yang berada ± 79km utara Paris. Di kota inilah aku akan menggunakan Ryan Air[4] (salah satu perusahaan penerbangan termurah di eropa) menuju Budapest ibukota Hungaria[5]. Ternyata Bauvais jauh juga 1h15 dari Gare du Nord, belum lagi shuttle bus dari gare Bauvais lama sekali datangnya. Terpaksa aku menggunakan taxi  (13€/person) (daripada ketinggalan pesawat..)
Bauvais L'aeroport
Ryan Air
Setibanya dibandara Bauvais, aku teringat akan airport LCC (Low Cost Carrier) di Kuala Lumpur Int’l Airport – Malaysia.. tak jauh beda, airport berlantai 1 dengan fasilitas sederhana namun disinilah hampir semua penerbangan murah dari Paris diterbangkan ke seluruh daratan eropa. Dengan pelayanan yang serba minimalis namun cukup ketat. Akhirnya pesawat Ryan Air FR8414 (135€) take off  tepat pukul 12.45 menuju Budapest yang akan ditempuh dalam 2h30.
Ferihegy Airport
Sara Friederiech
Luar biasa Ryan air memang sangat efisien dan on time, tak salah kalau ia menjadi Airline no.1 paling  on time di eropa. Selama perjalanan crew cabin yang semuanya laki-laki bergerak cepat dan praktis, jam 14.45 roda pesawat touch down/landing di Ferihegy Int’l Airport – Budapest. Bandaranya kecil, mirip seperti terminal 3 bandara Soekarno-Hatta tapi “bersih” dan rapih. Setelah selesai mengambil bagasi, Tak lama aku menunggu (±20menit) Sara Friederiech (mahasiswi Hungary yang pernah kuliah 6 bulan di STP Sahid dalam program Darmasiswa) di meeting point.

Budapest
Sara datang… senangnya setelah hampir 1 tahun tak bertemu, dia langsung mengajakku ke mobilnya untuk menuju Apartementnya yang berada dipusat kota PEST, Ternyata kota Budapest terdiri dari dua kota, BUDA dan PEST yang dipisahkan oleh sungai besar yaitu Danube River[6] (Magyar; Duna). Kota ini penuh dengan bangunan tua yang berasal dari abad ke 18 dan 19 dengan ornament-ornamen Baroc dan Classic. Akhirnya kami tiba di appartementnya Sara, sebuah apartment dengan luas sama dengan appartement T-3 di Perancis yang berada di lantai 4 dengan fasilitas lengkap dan modern, namun yang menarik adalah bagunan luar apartment nampak tua dan tak terurus.
Keliti Train Station
Aku disambut hangat oleh ibunya Sara, setelah meletakkan barang-barangku, aku dan Sara langsung menuju Keleti Train Station[7](Station kereta Utama Budapest) untuk membeli tiket kereta ke Bratislava[8], sepanjang jalan kutemui banyak sekali turis-turis eropa maupun asia. Ternyata Budapest merupakan tujuan pavorit buat orang-orang eropa, selain murah, udaranya juga menyegarkan (tak terlalu dingin) seperti di kota-kota eropa lainnya.

Bus kota Budapest
Train station besar ini ramai sekali, bangunannya mirip seperti Station Beos-Kota, dan kereta-keretanya mirip juga dengan gerbong kereta di Indonesia, hanya fasilitas didalamnya lebih nyaman. Kereta-kereta disini menghubungkan Budapest-Hungary dengan negara-negara eropa timur lainnya. Oh iya.. Hungary dulu merupakan salah satu negara Blok Timur (Komunis). Jadi jangan kaget kalau melihat banyak sekali peninggalan-peningalan Rusia disini, mulai dari monument-monumen, patung-patung seperti Stalin, maupun lambang-lambang komunis lainnya. Selesai membeli tiket seharga 5.160ft (16,30€) Sara mengajakku untuk membeli tiket bus kota yang kugunakan untuk hari ini, di metro station  di bawah Keleti station.
Setelah mendapatkan tiket, kami segera menuju sungai Danube yang terkenal itu untuk melihat kota BUDA dari pinggir sungai. Bus-bus dikota Budapest semuanya berwarna biru tua (layaknya bus TNI AU di Indonesia) dan fasilitasnya mirip dengan PPD, namun kursinya lebih bagus loh…
Menikmati Ice Cream dipinggir Duna River
Sambil berjalan menuju pingir sungai, Sara membelikanku ice cream yang terkenal dikota PEST. Ehmm yummy!!! Perpaduan antara Coconut dan Strawberry Ice cream cukup nikmat… Menyusuri pingiran sungai Duna, sangat menyenangkan penuh dengan café-café dan restaurant terapung disepanjang pingiran sungai. Sara mengajakku untuk berphoto di depan Szechenyi Lancid (Lanchid; jembatan) salah satu Jembatan Gantung utama yang menghubungkan kota Buda dan Pest,  berpose didepan patung  Singa yang menjadi Landmark kota Budapest, di depan Szechenyi Lancid, berjejer hotel-hotel bintang 5 yang terkenal mulai dari Marriot, Intercontinental, Sofitel, dll.

Szt.Istvan Bazilika
Aku berpisah dengan Sara di Vorosmarty ter (Ter; taman), karena Sara harus kembali ke kantornya, setelah sempat memberi petunjuk arah kembali ke appartemenya dengan bus. Tapi kuputuskan untuk berkeliling kota dengan berjalan kaki, tujuannku untuk melihat kota sedetail mungkin. Dari jauh kulihat menara gereja Szt. Istvan Bazilika menjulang tinggi, namun sebelum kesana aku melewati sebuah taman kota Program Centrum, sebuah lapangan yang penuh dengan aktivitas bermain, disini kulihat banyak remaja bermain sepeda BMX, Skateboard, Bola Basket atau hanya sekadar duduk di rerumputan berjemur bersama teman-temanya.
Szabadsag Ter
Saat berada di depan Szt Istvan Bazilika, kulihat megah lengkap dengan ornament emas dan besarnya bangunan gereja itu… Setelah beberapa photo, kulanjutkan perjalanan kearah utara ke Szabadsag Ter wowww luar biasa menarik.. sebuah lapangan (square) yang diujungnya terdapat monument kemenangan (oleh karena itu disebut Liberty Square) dikelilingi oleh bangunan-bangunan besar dengan ornament menarik, salah satunya telah menjadi kedubes USA. Selesai berkeliling kuputuskan untuk beristirahat sebentar disalah satu station metro Arany Janos Utca (Utca; jalan). dengan memperhatikan bus Tram merah a la Budapset
Bus Tram
Jam sudah 18.00 perjalanan kulanjutkan menyusuri  Andrassy Boulevard, yang kuyakin menjadi salah satu jalan favorit bagi wisatawan, karena dijalan ini terdapat berbagai toko merk-merk ternama mulai dari Bucherry, Louis Vinton, Cartier, dll. 
Andrassy Boulevard
Diujung jalan ini terdapat Magyar Allami Operahaz (Gedung opera yang terkenal itu) bagunannya penuh dengan ornament yang menarik terutama langit-langitnya.. Indah sekali. Menurut ibunya Sara, opera yang ditampilkan sangat menarik dan beberapa diantaranya dalam bahasa Inggris (Tapi mahal sekali sekitar 1300 ft/43€). Didepan bangunan opera juga kulihat bangunan lain yang cukup menarik namun masih dalam renovasi.
Magyar Allami Operahaz
Ornamen dalam Opera House
Gedung ??? depan Opera House
Menyusuri Cysanyi Utca dan Akacta Utca cukup menarik karena disini ternyata menjadi tempat para Backpackers berkumpul, Youth hostel murah, restaurant, toko-toko rokok, bar dan pub bertebaran disepanjang jalan ini.  Banyak sekali backpackers yang berlalu-lalang (Spanyol, Italy, Jerman.. entah dari negara mana lagi, susah aku untuk mengenali bahasa yang mereka gunakan. 
Salah satu hotel Mewah di Aranis Janos Utcha
Akhirnya aku sampai di Blaha Lujza Ter (sebuah public center) yang menjadi patokan sudah dekat dengan apartment Sara, Sebelum sampai ke apartment Sara, kusempatkan mampir ke Gyros[9] (mirip kebab) di Persian Gyros, penjualannya seorang Iran yang sudah 8 tahun di Budapest, sangat bersahabat apalagi sat ia tahu kalau aku muslim dan berasal dari Indonesia, makan malamku seharga 950ft(3,28€) cukup mengenyangkan..
Takos Te'seta
Sesampainya di apartment, Sara belum pulang , hanya ibunya yang membukakan pintu.. dengan bahasa tubuh.. (karena ia sama sekali tak bisa bahasa Inggris) memaksaku untuk mencoba masakannya soup khas Hungary Soup Boubgulyas dan Takos Te’seta, makanan penutup yang sangat manis bagiku, pechi-pechi (sedikit-sedikit) saja, katanya merayuku… Aku hargai tawarannya walaupun perutku sudah sangat kenyang… Kasanam ((Thank you) Mama..
Sambil menunggu Sara pulang, ia menunjukkan laptop Sara untuk aku gunakan, Wowww sesuatu banget!!!. Tak lama Sara dan Zoli (Pacar Sara) datang.. mereka sangat senang mendengar perjalananku pagi hingga malam ini…. Waktunya tidur !!!


Rabu, 11 April 2012

I want to ride my bicycle

Sebuah judul lagu yang sangat terkenal dari kelompok QUEEN,  2 dekade yang lalu....
Parkir sepeda - Nantes
Ternyata apa yang pernah sampaikan beberapa hari yang lalu tentang "One Bike for One Person" sudah digalakkan oleh rekan-rekan di UGM Yoyga sejak tahun 2005[1] yang lalu dan ternyata sudah sangat berkembang hingga sekarang sudah ada 800 sepeda yang GRATIS dapat digunakan oleh seluruh civitas akademika UGM.2
Sepeda-sepeda yang bisa dipakai kapan saja - Rennes

Sepeda ini siap 24 jam - Tours
Bahkan belum lama telah terbentuk komunitas sepeda hijau, terdiri dari UGM, UNY, Universitas Atmajaya, UII dan Universitas Sanata Dharma, sekaligus mendeklarasikan Jogja Gembira Bersepeda  “Jogja Kembali Bersepeda”[2]. Siapa lagi yang menyusul
Saya membayangkan kalau semua mahasiswa di Indonesia (yang semuanya orang pinter!!!!!) Mengunakan sepeda dimulai dari lingkungan kampus saja…sudah berapa ribu orang ??? (ilustrasi saja ya..  UI 47.357mahasiswa, UGM 50.000 mahasiswa,  ITB 18.000 mahasiswa(per 2010), dan berapa BBM yang dapat dihemat ??? berapa CO2 yang bisa dikurangi????? Ayo orang pinter….pake sepeda yoo…
Sepeda depan kampus - Angers
Siapa bilang bersepeda hanya untuk orang miskin, salah besar…Di eropa pergi kerja dengan bersepeda (bike to work) merupakan hal yang lumrah dan biasa. Bahkan di kampus saya sebagian besar dari 20.000 mahasiswanya (2011), menggunakan sepeda untuk beraktivitas sehari-hari, dan bukan hanya mahasiswa tetapi juga para dosen dan staff akademik. Selain hemat, sehat dan tidak berpolusi (itu baru namanya  orang pinterrr!!!!).
Parkir sepeda di Centre Ville - Angers
Namun gerakan bersepeda dieropa, khususnya di Perancis, sangat didukung oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama pemerintahnya. Jalur buat sepeda hampir ada setiap jalan, dan tertata dengan baik….(Apa khabar jalur sepeda Taman Ayodya - Melawai yang hanya 1,5 km. yang sekarang lebih banyak jadi tempat mangkal bajaj bahkan  pengguna sepeda justru tidak bisa melintas??)[3]. Dan disediakan parkir sepeda disetiap tempat-tempat umum..
Sepeda-sepeda yang dibisa dipakai kapan saja - Nantes

Di setiap la gare/stasiun kereta api ataupun bus station, disediakan sepeda-sepeda (yang tariff sewanya sangat murah 1-2€/hari) oleh pemda, yang dapat digunakan oleh siapa saja, apakah dia wisawatan ataupun businessman, yang ingin  beraktivitas dikota-kota. Bagi mereka yang ingin menggunakan sepeda untuk jangka waktu yang lama, mereka juga dapat meminjamnya secara GRATIS dari pemda setempat hanya dengan menunjukkan alamat tinggal sementara di kota tersebut, anda akan dapat meminjam sepeda (kondisinya sangat baik lho…) untuk waktu 4 bulan.
Sepeda masuk Tram/TER - Angers
Saya sendiri menggunakan fasilitas ini sejak 6 bulan yang lalu, lumayan  untuk berkeliling kota ataupun hanya sekadar untuk berbelanja ke supermarket… kalau capek mengayuh sepeda, dan sudah jauh dari apartement, sepeda bisa dimasukkan dalam TRAM, tinggal duduk santai…enak toh..



[1] http://ixl41.blogspot.fr/2008/05/apa-kabar-sepeda-hijau-ugm.html
[2] http://www.ugm.ac.id/index.php?page=headline&artikel=201
[3] http://megapolitan.kompas.com/read/2012/01/22/12463452/Jalur.Sepeda.Akan.Dibuat.Di.Empat.Wilayah.Jakarta

Selasa, 10 April 2012

3 in 1 (Three "Activities" in One Day)


31 Maret 2012
 
Hmm hari ini cukup melelahkan……tapi juga cukup menyenangkan. Tiga aktivitas langsung  kuikuti di kota Angers, apalagi awal musim semi ini matahari bersinar sepanjang hari dan langit yang cerah..Mulai dari Pique-nique di lac du Maine, bersama sebagian besar mahasiswa M2 ITBS-Anglophophone, Menyaksikan Carnaval les Printemps dan Menonton penampilan Les Arthurs “La Bombe”.

Pique-nique di Lac (danau)  du Maine
Fan Xinqiao salah seorang mahasiswi M2 dari  Zhejiang-Gongshang-University-China, akan pulang terlebih dulu waluapun baru ½ semester (sisanya akan ia selesaikan di kampusnya). Untuk itu ia mengundang seluruh mahasiswa M2 untuk Pique-nique di Lac du Maine, (sebuah danau yang berjarak hanya ± 4km dari pusat kota dan luasnya areanya 90HA),[1] luas kan ???, dan bukan itu saja, fasilitasnya sangat lengkap sekali untuk aktivitas nautica seperti : kayak/cano, berselancar air, juga untuk olah raga jogging, bersepeda dan  tempat rekreasi/pique-nique) menjadi salah satu  City Park utama bagi penduduk kota Angers
http://media.paperblog.fr
Pertemuan diputuskan jam 13h00 di Centre Nautique. Namun sampai 1 jam dari waktu yang ditentukan baru lima orang yang nampak batang hidungnya 3 orang Indonesia( Aku, Bayu, Echi), 1 orang Vietnam (…) dan 1 orang Jerman (Maura Dreher). Nampaknya kebiasaan  terlambat  bukan hanya menjadi domain orang Indonesia saja, tapi uga hampir semua orang asia, ha..ha..ha..
Tak lama muncullah Clint  (china) dan teman-temannya…. Kami putuskan untuk pindah ke tempat yang lebih nyaman dan pemandangan yang lebih menarik di Accueil Lac du Maine.  Yup ternyata tempat ini menjadi pavorit banyak orang, sudah banyak kelompok lain yang “berjemur” menikmati sinar matahari hari ini. Sebagian besar dari mereka dalah ana-anak muda, beberapa diantaranya kami kenal sebagai mahasiswa Universite d’Angers juga. Bahkan ada group besar mahasiswa yang berasal dari berbagai negara penerima beasiswa ERASMUS program, mereka mengundang kami untuk bergabung bersama, namun kami sampaikan kalau kami bukanlah penerima ERASMUS.
Group ERASMUS Picture by Rose B.
Setelah menunggu hampir 2 jam dari waktu yang dijanjikan, barulah muncul Fan Xinqiao, sang punya acara bersama Rose Buctuan (Philipine) Peri (China) Olesya  Buchavera dan Natalia Volovod (Rusia).
Laparrrr…jerit beberapa orang, benar sangat terasa lapar selain sudah jam 14h00, angin dingin juga menambah rasa lapar menjadi-jadi. Serempak semua mengeluarkan bekal makanan dan minuman masing-masing, wowww…. Banyak sekali macamnya mulai dari Dumpling a’la China,  Mozzarella Tomato Salad a’la Jerman hingga Sousicion a’la Rusia, yang lain rata-rata membawa biscuit atau roti-roti, aku sendiri hanya membawa Crackers & Cider.
Makan-makan Picture by Rose B
Seru juga acara makan bersama ini, apalagi suasana dan pemandangan yang cukup menarik…permainan kartu meramaikan acara, Aku dan Oleysa menjadi orang yang terakhir menyelesaikan  game yang cukup menarik ini.
Card Games Picture by Rose B
Sabri dan Alce, yang baru datang dengan membawa “amunisi” (makanan) tambahan….Semakin lama, semakin ramai, Oleysa, Fan Xinqiao dan Sabrie bergantian menyanyikan lagu-lagu popular dari masing-masing negara, semakin seru diiringi dengan “jrang-jreng’ gitar mini yang dimainkan oleh Sabrie.
Photo Bersama Picture by Rose B
Aku, Sabrie, Clint dan temannya sempat bermain bola di Pantai pasir tepi danau…alamak napasku hampir putus….capek!!!!
Jam 15h30, aku pamit lebih awal karena tak ingin melewatkan Carnaval Les Printemps yang tadi pengumumannya sempat aku lihat di banyak terpampang di pemberhentian bus. Tapi tak mudah untuk mendapatkan bus kembali ke kota, karena banyak bus yang berubah rute sehingga waktu tunggu lebih lama..

Les Printemps Carnaval[2]
Parade Les Printemps, Picture by Reasha
Setiap tahun para ‘Angervin’’ (sebutan untuk penduduk kota Angers) merayakan kedatangan musim semi dengan melakukan carnaval les printemps yang dipusatkan di jalan-jalan utama kota Angers…..
Parade Mobil Tua, Picture by Reasha
Parade Drum Band, Picture by Reasha
Sayangnya saat aku sampai di pusat kota, parade keliling sudah berakhir, tapi masih bisa menikmati  (sisa) penampilan dari para peserta carnaval di Quai Ligny. Disini aku menyaksikan tarian/dansa a’la angervin dengan music khas yang diikuti oleh puluhan pasangan tua-muda. Aku juga melihat Badut-badut raksasa yang digerakkan layaknya seperti wayang sebagai maskot carnaval ini yang diiringi tarian « ansamble » yang di Chorégraphié oleh Centre national de danse contemporaine (CNDC) dan para murid-murid SMP yang menggunakan pakaian hitam-kuning, layaknya bunga matahari, cukup menarik !!!
Badut-Badut Picure by Reasha



Badut-badut, Picture by Reasha
Tapi yang paling menarik adalah penampilan dari para Cook/chef yang menampilkan permainan music dengan menggunakan berbagai alat masak dan diakhiri dengan (SUPRISE !!!) membagikan « Apple Strudle avec Cranberry Sauce » yang yummmy…. Ke seluruh penonton, C’est superb..
Chef/Cook bermusic, Picture by Reasha
Chef/Cook bermusic, Picture by Reasha
Matahari masih bersinar terang, tapi jam di tangan sudah menunjukkan 18h00, Bergegas aku menuju tram station Railement, tapi kusempatkan mampir ke beberapa toko buku untuk mencari buku referensi bahan revisi proposal desertasiku.

Les Arthur « La Bombe »[3]
Jam 18h45 aku sampai di Résident Einstein, setelah terkena sinar matahari seharian penuh, rasa terbakar dimukaku baru terasa. Apalagi malam ini temperatur turun drastis mencapai 5’C ditambah dengan angin yang bertiup deras dan dingin. Kulihat mukaku di kaca lift seperti Udang rebus.
Sambil menunggu suhu tubuh turun sebelum mandi, aku sempat BBM (Black Berry Messenger) ke bu Irma (DDIP Unud) yang tadi tidak tampak hadir di Lac de Maine, karena sakit. BBMku dijawabnya dengan penawaran untuk menggunakan tiket menonton komedi show ”Les Arthurs – La Bombe” di Theater de la Comédie. Karena dia tak mungkin datang dengan kondisi badan yang belum fit. Kuterima tawaran tersebut dengan catatan akan kubeli tiketnya dengan harga special (no gratuite) tapi ia memaksa untuk memberikan secara gratis…Okelah…nothing to loose.
Ticket La Bombe
Waktu pertunjukan adalah 20h30, berarti aku punya waktu 1 jam untuk madi dan bersiap-siap ke Centre Ville lagi.
Uppps…mukaku masih terasa perih setelah mandi. Pipiku nampak merah terbakar, cream pelembab yang tadi kuoleskan agak mengurangi rasa perihnya. Angin malam mini  sangat menusuk tulang. Turun dari Tram di Raillement aku langsung menuju Théâtre de la Comédie yang hanya beberapa ratus meter di belakang La Théâtre Restaurant yang terkenal di Angers.
Antrian sudah panjang saat aku tiba didepan théâtre, kulihat Echi dan Maura juga mengantri, mereka memanggilku untuk bergabung dengan antrian mereka. Ternyata ada 5 orang mahasiswa M2 yang juga menyaksikan penampilan ini  (Echi, Maura, Olesya, Itha dan Yusni).

Théâtre kecil yang berkapasitas 40-50 kursi ini terisi penuh, sebagian besar pengunjungnya berusia 30-60 tahun, hanya nampak beberapa anak muda. Terus terang selama pertunjukkan otakku harus bekerja keras untuk bisa menyimak “Sandiwara” ini. Penonton dikiri-kananku tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan dialog-dialog dari para pemain di panggung. Aku mengerti hanya sedikit sekali  bahasa maupun istilah-istilah yang mereka gunakan . Aku membayangkan, mungkin begini rasanya kalau orang « bule »/asing disuruh menyaksikan acara  “Overa Van Java” atau “Bukan 4 Mata”. Aku terlihat seperti orang begong mencoba mengartikan maksud dan jalan cerita darai para pemain théâtre ini. He..he.. ternyata bukan aku saja, ke 5 orang teman M2 juga « setali 3 uang » denganku…
Tapi lumayanlah buat menambah koleksi dan cerita pengalaman di negeri yang (katanya) kaya akan seni nya..
Pertunjukkan selama 2 jam ini berakhir 22h00. Mataku terasa berat sekali “Ngatuk”. Keluar dari Theathre Itha, Oleysa dan Yusni langsung menuju “James Joy” Bar (untuk kembali berkumpul dengan teman-teman yang tadi berkumpul di Lac de Maine) kecuali aku, Maura dan Echi yang memutuskan untuk langsung pulang…..Tidurrrrrrrrr…



[2] http://angers.leboost.com/actualite/2012/02/les-20-ans-du-carnaval-d-angers-20.html
[3] http://www.lesarthurs-theatre.com/

Sabtu, 07 April 2012

One Bike for One Person


suarapembaruan.com

Menyaksikan tayangan di seluruh TV Nasional melalui jaringan Internet, Isinya “Idem”. Membahas, menganalisa, mengamati, mencermati, mengulas, entah apalagi istilahnya, yang pasti ceritanya tentang isu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Demonstrasi menolak kenaikan,  marak dipenjuru Indonesia, mulai dari pedagang sayur, tukang becak, mahasiswa bahkan para pemimpin daerah (wakil walikota Solo, Bupati Bangkalan, hingga Gubernur Jatim)
Kenaikan BBM akhirnya “Ditunda” hingga 6 bulan kedepan, setelah melalui sandiwara perdebatan yang panjang di Istana para (mengaku) wakil rakyat.
Ada hal yang menarik dan juga perlu diawasi. Pemerintah selama ini melalui BPS selalu mengumumkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia hanya 57 juta orang[1], Namun disaat pengajuan dana Bantuan Langsung  Sementara Masyarakat (BLSM) yang mengantikan  Bantuan Lansung Tunai (BLT) untuk penganti kenaikan BBM, jumlahnya melonjak menjadi 74 juta orang[2], berarti ada selisih 17 juta orang miskin yang baru muncul secara ajaib. Inikah orang-orang miskin yang butuh dana untuk ‘’2014’’
Negeri yang aneh…
Memang jika dibandingkan dengan negara-negara lain, harga BBM di Indonesia termasuk murah. Di Malaysia;  Solar Rp4.784/liter, Premium Rp5.066/, Vietnam; Solar Rp7.049/liter, Premium Rp7.759/liter Singapore; Solar Rp8.429/liter, Solar Rp11.560/liter, Thailand Solar Rp7.367/liter, Premium Rp8.777/liter[3]. Bahkan akan nampak sangat murah jika dibandingkan dengan Perancis dimana harga 1 liter BBM berkisar  Solar 1,4- 1,5Euro(Rp 11.000an) dan 1,61 – 1,63 Euro/liter(Rp 12.000an).[4] Namun bukan alasan bagi pemerintah untuk menghalalkan kebijakan “tak popular” tersebut. Penghematan konsumsi BBM oleh rakyat sebenarnya dapat dilakukan tanpa harus menyengsarakan rakyat, misalnya dengan memperbaiki pelayanan transportasi umum, Mengalakkan sumber energy alternative, seperti; Matahari, Air dan Angin. Memang biayanya akan sangat mahal sekali jika hanya dilakukan secara seporadis (sendiri-sendiri) namun jika dilakukan secara masal, niscaya akan sangat terjangkau.
Hai-online.com
Yang cukup menarik adalah, komentar salah seorang teman (Ika Widi) yang memberikan comment di social media (facebook) isinya; ‘’ Hoy para demonstran lebih baik kalian juga menyerukan aksi “one person one bike” untuk para petinggi kita di gedung hijau sana sebagai subsidi Jikalau mereka memutuskan untuk menaikkan harga BBM, Negara harus menyiapkan 1 buah sepeda gratis..tek perlu bagus yang penting layak guna per kepala dan memberlakukan hukum untuk haram berkendaraan pada jam-jam kantor. Hayoo berani ngak tuch pejabat subsidi bike untuk rakyat

Idenya…saya acungi 2 jempol..Saya Ingat dulu hingga akhir tahun 80an kota Yogyakarta selain menjadi kota Pelajar juga terkenal dengan kota Sepeda, namun sekarang berubah menjadi kota sepedamotor,  Ironi memang pemerintah sama sekali membiarkan rakyatnya menjadi para para "konsumer" kelas kakap yang berbanding terbalik dengan penghasilan mereka. (bersambung...)


[1] http://sosbud.kompasiana.com/2012/01/04/refleksi-akhir-tahun-2011-umat-masih-menderita-karena-kapitalisme-hanya-syariah-dan-khilafah-solusinya/
[2] http://issuu.com/swarakita/docs/sk02032012
[3] http://economy.okezone.com/read/2012/03/24/19/598968/bbm-indonesia-paling-murah-se-asia
[4] http://about-france.com/travel.htm